Minggu, 27 November 2011

Sejarah 1 Muharam


Satu Muharam
Sisi lain Sejarah Satu Muharam



Seiring dengan masuknya waktu magrib pada hari Sabtu tanggal 30 Zulhijjah 1432 H yang bertepatan dengan 26 November 2011 maka resmilah umat muslim memasuki bulan Muharram 1433 H. Tentunya ada yang heran kenapa bukan pada pukul 12 tengah malam seperti layaknya tahun baru masehi. Memang, dalam metode penghitungan penanggalan Muslim, berakhirnya suatu bulan akan ditandai dengan nampaknya hilal di langit senja. Metode yang mana dilakukan oleh MUI ketika hendak menentukan awal dan akhir Ramadhan. Sebenarnya hal tersebut tidak berlaku hanya pada penentuan bulan Ramadhan saja, melainkan pada setiap bulan pada kalender Islam.

Sumber foto: Internet 

Entah telah berapa Muharram yang kita lewati. Kita selalu merayakannya, ceramah-ceramah di masjid-masjid ataupun pidato dari pejabat resmi pemerintah selalu menyinggung tentang Hijrahnya nabi kita dari kampungnya Mekkah ke Madinah al Mukarramah. Penyebabnya ialah kekejaman kaum kafir Quraisy, berbagai tekanan yang dihadapi oleh umat muslim ketika itu, dan lain sebagainya. Atau tentang makna hijrah itu sendiri, yang tidak selalu makna hijrah secara fisik akan tetapi juga bathin. Dari pribadi yang kurang religius menjadi pribadi yang religius, begitulah kira-kira.

Namun pernahkah kita diberitahu, kenapa tanggal satu Muharram dijadikan sebagai awal tahun Islam, kenapa kiranya hingga Hijrahnya nabi dijadikan patokan sebagai permulaan abad Islam, dan sejak kapan penanggalan hijriyah ini mulai dikenal, apakah semenjak zaman nabi atau sudah ada semenjak sebelum kenabian beliau?


Itulah sedikit diantara beragam pertanyaan yang mengusik hati ku semenjak beberapa waktu belakangan ini. Mari kita mulai pembahasan dari asal muasal abad pertama Islam.

Awal Penetapan Abad Pertama Islam

Khalifah Umar Bin Khatab merupakan salah satu khalifah terbesar umat Islam. Sejarah kepemimpinannya penuh akan kemenangan, kegemilangan, dan kemajuan Dakwah dan Daulah (Negara) Islam. salah satu jasa dari Khalifah Umar ialah penetapan kalender bagi umat Muslim. Hal ini bermula pada suatu hari kepada khalifah dihadapkan suatu surat hutang yang jatuh tempo pada bulan Sya’ban. Kemudian beliau bertanya “ Sya’ban kapankah ini? Sya’ban tahun lalu, tahun sekarang, atau tahun depan?”

Ternyata pertanyaan beliau mendatangkan masalah yang pelik, karena tidak ada disebutkan dalam surat itu pada tahun berapa dilunasinya hutang tersebut. Selama ini mereka hanya menamai tahun berdasarkan peristiwa besar yang terjadi pada tahun tersebut.

Adapun versi yang lain menyebutkan bahwa Khalifah Umar pada suatu ketika pernah mendapat surat dari Abu Musa Al-Asyari yang menjadi salah satu gubernur di wilayah Islam. beliau mempertanyakan surat Khalifah yang tidak memiliki tahun, yang ada hanya tanggal dan bulan saja. Hal mana membuat beliau bingung mengenai surat-surat khalifah ini.

Menghadapi hal yang demikian, maka khalifah mengumpulkan sekalian sahabat untuk bermufakat guna menyelesaikan masalah pelik ini.[1] Beragam pendapat yang diberikan kepada khalifah, diantaranya “Buat saja kalender serupa dengan milik orang Persia duhai Amirul Mukminin..” khalifah kurang berkenan dengan pendapat ini.

“Bagaimana kalau seperti yang dimiliki bangsa Rum ya Amirul Mukminin..” khalifahpun menggeleng, karena pendapat tersebut sama dengan pendapat sebelumnya.

“Bagaimana kalau permulaan tahun pada kelender kita dimulai pada kelahiran Rasulullah..” usul yang lain.

“Kalau dimulai semenjak diutusnya beliau sebagai Rasul...” pendapat yang lain mulai berhamburan.

“ Hm..eloknya dimulai disaat beliau hijrah dari Mekah ke Madinah, bagaimana gerangan Amirul Mukminin” usul sahabat yang lain. Khalifah tetap diam, sebagai pemimpin sudah selayaknyalah mengambil sikap sabar sampai anak buah selesai melepaskan apa yang terasa.[2]

“Bagaimana kalau wafatnya Rasulullah kita jadikan permulaan tahun kita...” ujar yang lain.

Akhirnya setelah menimbang berbagai hal, serta tentunya dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Maka pada sidang tersebut diambillah keputusan untuk menetapkan bahwa dimulainya hitungan tahun umat Muslim ialah ketika nabi hijrah.

Begitulah cerita yang saya ketahui mengenai awal dimulainya hitungan tahun pada kalender kita Umat Islam. sekarang muncul pertanyaan lain,apa gerangan arti dibalik nama-nama bulan dalam penanggalan kita Umat Muslim? Elok saya terangkan agak sedikit, sayapun mengetahui cerita ini dari beberapa sumber di website dan blog, dimana saya cantumkan dan berilink menuju situs tersebut.

Arti Dari Nama Bulan pada Penanggalan Hijriyah

Sebelum saya mulai, eloklah kiranya jika saya terangkan terlebih dahulu bahwa sebelum kedatangan Islam, orang Arab telah menggunakan penanggalan dengan memakai bulan yang sama dengan yang kita kenal sekarang. Hanya saja metode yang mereka pakai dalam menghitung kapan masuk bulan atau tahun baru merupakan campuran antara sistim Qamariyyah[3] dan Syamsiayah. Pada sistim penghitung Qamariyyah jumlah hari pada satu tahunnya ialah 354 hari yakni 11 hari lebih cepat dari tahun Masehi. Orang Arab pra Islam menambah satu bulan tambahan diakhir bulan Zulhijjah dalam periode 19 tahun. Dimana dalam masa itu terdapat “tujuh buah” tahun yang memiliki 13 bulan.[4] Hal ini menyebabkan awal tahun selalu jatuh pada musim gugur. Dan jatuhnya musim yang lain tentunya dapat dipastikan pada bulan-bulan tertentu, layaknya penanggalan masehi sekarang.

Dimasa Nabi Muhammad, beliau merubah penanggalan Bangsa Arab dengan menghilangkan bulan yang disebut “ nasi’ “ sesuai dengan perintah Allah pada surah At Taubah ayat 36-37:

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
[640]. Maksudnya antara lain ialah: bulan haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah haram (Mekah) dan Ihram.

[641]. Maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan.
37. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu[642] adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
[642]. Muharram, Rajab, Zulqaedah dan Zulhijjah adalah bulan-bulan yang dihormati dan dalam bulan-bulan tersebut tidak boleh diadakan peperangan. Tetapi peraturan ini dilanggar oleh mereka dengan mengadakan peperangan di bulan Muharram, dan menjadikan bulan Safar sebagai bulan yang dihormati untuk pengganti bulan Muharram itu. Sekalipun bulangan bulan-bulan yang disucikan yaitu, empat bulan juga. Tetapi dengan perbuatan itu, tata tertib di Jazirah Arab menjadi kacau dan lalu lintas perdagangan terganggu.

Hal ini menyebabkan jatuhnya musim selalu bergeser pada tiap tahunnya. Seperti bulan Muharram yang biasanya jatuh pada musim panas, kini tidak lagi, begitu juga dengan bulan Jumadil Awal yang biasanya jatuh pada musim dingin, kinipun telah bergeser. Begitu juga kiranya yang terjadi pada bulan-bulan yang lain. Sehingga orang berhaji atau melaksanakan ibadah puasa dapat saja berlangsung pada musim gugur, panas, semi,  ataupun dingin.

Nah, penamaan bulan dalam kalender hijriyah sekarang merupakan kelanjutan di masa sebelum kedatangan Islam. dimana bulan-bulan dinamai berdasarkan keadaan alam dan masyarakat Arab pada masa dahulu. Berikut nama ke-12 bulan beserta artinya:

1.    MUHARRAM
artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.

2.    SHAFAR,
artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

3.    RABI'UL AWAL,
artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninggalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah.
Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.

4.    RABIU'UL AKHIR,
artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.

5.    JUMADIL AWAL 
nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

6.    JUMADIL AKHIR,
artinya: musim kemarau yang penghabisan.

7.    RAJAB, 
artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.

8.    SYA'BAN,
 artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

9.    RAMADHAN,
artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat menaklukan kaum musyrik dalam perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

10. SYAWWAL,
 artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang membahagiakan.

11. DZULQAIDAH,
berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.

12. DZULHIJJAH 
artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.


Arti dari Nama Hari pada Penanggalan Hijriyah

Adapun mengenai nama-nama hari, diberi nama sesuai dengan urutannya. Serupa kiranya dengan penamaan hari pada bangsa Jepang. Yakni:

1.    al-Ahad (Minggu)
artinya hari pertama. Hingga kini dikampung-kampung masih terdengar orang-orang tua menyebut “ari akad” atau “ari ahad”. Serta “Pakan Akaik” atau berarti Pekan Ahad.

2.    al-Itsnayn (Senin)
artinya hari kedua. Dikampung-kampung masih terdengar orang tua-tua menyebut “ari Sanayan” atau Pakan Sinayan.

3.    ats-Tsalaatsa' (Selasa)
artinya hari ke tiga.

4.    al-Arba'aa / ar-Raabi' (Rabu)
artinya hari ke empat. Dikampung-kampung masih terdengar orang tua-tua menyebut “Ari Raba’a” atau Pasa Raba’a.

5.    al-Khamsatun (Kamis)
artinya: hari ke lima

6.    al-Jumu'ah (Jumat)
artinya: hari berkumpul. Dimana hari ini merupakan hari yang disucikan oleh umat muslim dengan memperbanyak ibadah dan berkumpul di dalam masjid pada pelaksanaan Shalat Jum’at.

7.    as-Saba’ah (Sabtu)
artinya: hari ketujuh. Kalau kita simak Orang Yahudi merayakan hari Sabat yang makna atau fungsinya sama dengan hari Jum’at oleh kita umat Muslim. Kita lihat bahasa mereka tidak jauh berbeda dengan bahasa Arab. Memang, karena bahasa mereka masih satu rumpun dengan Bahasa Arab.




Daftar Bacaan











[1] Dalam salah satu versi sejarah disebutkan bahwa sahabat yang bermufakat dengan khalifah itu ialah: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Said bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.
[2] Menurut salah satu sumber sejarah yang mengusulkan hal tersebut ialah Saidina Ali bin Abi Thalib.
[3] Qamariyyah artinya menghitung bilangan hari dalam satu bulan berdasarkan peredaran bulan. Sedangkan Syamsiyyah merupakan penghitungan bilangan tahun berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari.
[4] Bulan tambahan ini disebut “ Nasi’ ”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Minggu, 27 November 2011

Sejarah 1 Muharam


Satu Muharam
Sisi lain Sejarah Satu Muharam



Seiring dengan masuknya waktu magrib pada hari Sabtu tanggal 30 Zulhijjah 1432 H yang bertepatan dengan 26 November 2011 maka resmilah umat muslim memasuki bulan Muharram 1433 H. Tentunya ada yang heran kenapa bukan pada pukul 12 tengah malam seperti layaknya tahun baru masehi. Memang, dalam metode penghitungan penanggalan Muslim, berakhirnya suatu bulan akan ditandai dengan nampaknya hilal di langit senja. Metode yang mana dilakukan oleh MUI ketika hendak menentukan awal dan akhir Ramadhan. Sebenarnya hal tersebut tidak berlaku hanya pada penentuan bulan Ramadhan saja, melainkan pada setiap bulan pada kalender Islam.

Sumber foto: Internet 

Entah telah berapa Muharram yang kita lewati. Kita selalu merayakannya, ceramah-ceramah di masjid-masjid ataupun pidato dari pejabat resmi pemerintah selalu menyinggung tentang Hijrahnya nabi kita dari kampungnya Mekkah ke Madinah al Mukarramah. Penyebabnya ialah kekejaman kaum kafir Quraisy, berbagai tekanan yang dihadapi oleh umat muslim ketika itu, dan lain sebagainya. Atau tentang makna hijrah itu sendiri, yang tidak selalu makna hijrah secara fisik akan tetapi juga bathin. Dari pribadi yang kurang religius menjadi pribadi yang religius, begitulah kira-kira.

Namun pernahkah kita diberitahu, kenapa tanggal satu Muharram dijadikan sebagai awal tahun Islam, kenapa kiranya hingga Hijrahnya nabi dijadikan patokan sebagai permulaan abad Islam, dan sejak kapan penanggalan hijriyah ini mulai dikenal, apakah semenjak zaman nabi atau sudah ada semenjak sebelum kenabian beliau?


Itulah sedikit diantara beragam pertanyaan yang mengusik hati ku semenjak beberapa waktu belakangan ini. Mari kita mulai pembahasan dari asal muasal abad pertama Islam.

Awal Penetapan Abad Pertama Islam

Khalifah Umar Bin Khatab merupakan salah satu khalifah terbesar umat Islam. Sejarah kepemimpinannya penuh akan kemenangan, kegemilangan, dan kemajuan Dakwah dan Daulah (Negara) Islam. salah satu jasa dari Khalifah Umar ialah penetapan kalender bagi umat Muslim. Hal ini bermula pada suatu hari kepada khalifah dihadapkan suatu surat hutang yang jatuh tempo pada bulan Sya’ban. Kemudian beliau bertanya “ Sya’ban kapankah ini? Sya’ban tahun lalu, tahun sekarang, atau tahun depan?”

Ternyata pertanyaan beliau mendatangkan masalah yang pelik, karena tidak ada disebutkan dalam surat itu pada tahun berapa dilunasinya hutang tersebut. Selama ini mereka hanya menamai tahun berdasarkan peristiwa besar yang terjadi pada tahun tersebut.

Adapun versi yang lain menyebutkan bahwa Khalifah Umar pada suatu ketika pernah mendapat surat dari Abu Musa Al-Asyari yang menjadi salah satu gubernur di wilayah Islam. beliau mempertanyakan surat Khalifah yang tidak memiliki tahun, yang ada hanya tanggal dan bulan saja. Hal mana membuat beliau bingung mengenai surat-surat khalifah ini.

Menghadapi hal yang demikian, maka khalifah mengumpulkan sekalian sahabat untuk bermufakat guna menyelesaikan masalah pelik ini.[1] Beragam pendapat yang diberikan kepada khalifah, diantaranya “Buat saja kalender serupa dengan milik orang Persia duhai Amirul Mukminin..” khalifah kurang berkenan dengan pendapat ini.

“Bagaimana kalau seperti yang dimiliki bangsa Rum ya Amirul Mukminin..” khalifahpun menggeleng, karena pendapat tersebut sama dengan pendapat sebelumnya.

“Bagaimana kalau permulaan tahun pada kelender kita dimulai pada kelahiran Rasulullah..” usul yang lain.

“Kalau dimulai semenjak diutusnya beliau sebagai Rasul...” pendapat yang lain mulai berhamburan.

“ Hm..eloknya dimulai disaat beliau hijrah dari Mekah ke Madinah, bagaimana gerangan Amirul Mukminin” usul sahabat yang lain. Khalifah tetap diam, sebagai pemimpin sudah selayaknyalah mengambil sikap sabar sampai anak buah selesai melepaskan apa yang terasa.[2]

“Bagaimana kalau wafatnya Rasulullah kita jadikan permulaan tahun kita...” ujar yang lain.

Akhirnya setelah menimbang berbagai hal, serta tentunya dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Maka pada sidang tersebut diambillah keputusan untuk menetapkan bahwa dimulainya hitungan tahun umat Muslim ialah ketika nabi hijrah.

Begitulah cerita yang saya ketahui mengenai awal dimulainya hitungan tahun pada kalender kita Umat Islam. sekarang muncul pertanyaan lain,apa gerangan arti dibalik nama-nama bulan dalam penanggalan kita Umat Muslim? Elok saya terangkan agak sedikit, sayapun mengetahui cerita ini dari beberapa sumber di website dan blog, dimana saya cantumkan dan berilink menuju situs tersebut.

Arti Dari Nama Bulan pada Penanggalan Hijriyah

Sebelum saya mulai, eloklah kiranya jika saya terangkan terlebih dahulu bahwa sebelum kedatangan Islam, orang Arab telah menggunakan penanggalan dengan memakai bulan yang sama dengan yang kita kenal sekarang. Hanya saja metode yang mereka pakai dalam menghitung kapan masuk bulan atau tahun baru merupakan campuran antara sistim Qamariyyah[3] dan Syamsiayah. Pada sistim penghitung Qamariyyah jumlah hari pada satu tahunnya ialah 354 hari yakni 11 hari lebih cepat dari tahun Masehi. Orang Arab pra Islam menambah satu bulan tambahan diakhir bulan Zulhijjah dalam periode 19 tahun. Dimana dalam masa itu terdapat “tujuh buah” tahun yang memiliki 13 bulan.[4] Hal ini menyebabkan awal tahun selalu jatuh pada musim gugur. Dan jatuhnya musim yang lain tentunya dapat dipastikan pada bulan-bulan tertentu, layaknya penanggalan masehi sekarang.

Dimasa Nabi Muhammad, beliau merubah penanggalan Bangsa Arab dengan menghilangkan bulan yang disebut “ nasi’ “ sesuai dengan perintah Allah pada surah At Taubah ayat 36-37:

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
[640]. Maksudnya antara lain ialah: bulan haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah haram (Mekah) dan Ihram.

[641]. Maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan.
37. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu[642] adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
[642]. Muharram, Rajab, Zulqaedah dan Zulhijjah adalah bulan-bulan yang dihormati dan dalam bulan-bulan tersebut tidak boleh diadakan peperangan. Tetapi peraturan ini dilanggar oleh mereka dengan mengadakan peperangan di bulan Muharram, dan menjadikan bulan Safar sebagai bulan yang dihormati untuk pengganti bulan Muharram itu. Sekalipun bulangan bulan-bulan yang disucikan yaitu, empat bulan juga. Tetapi dengan perbuatan itu, tata tertib di Jazirah Arab menjadi kacau dan lalu lintas perdagangan terganggu.

Hal ini menyebabkan jatuhnya musim selalu bergeser pada tiap tahunnya. Seperti bulan Muharram yang biasanya jatuh pada musim panas, kini tidak lagi, begitu juga dengan bulan Jumadil Awal yang biasanya jatuh pada musim dingin, kinipun telah bergeser. Begitu juga kiranya yang terjadi pada bulan-bulan yang lain. Sehingga orang berhaji atau melaksanakan ibadah puasa dapat saja berlangsung pada musim gugur, panas, semi,  ataupun dingin.

Nah, penamaan bulan dalam kalender hijriyah sekarang merupakan kelanjutan di masa sebelum kedatangan Islam. dimana bulan-bulan dinamai berdasarkan keadaan alam dan masyarakat Arab pada masa dahulu. Berikut nama ke-12 bulan beserta artinya:

1.    MUHARRAM
artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.

2.    SHAFAR,
artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

3.    RABI'UL AWAL,
artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninggalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah.
Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.

4.    RABIU'UL AKHIR,
artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.

5.    JUMADIL AWAL 
nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

6.    JUMADIL AKHIR,
artinya: musim kemarau yang penghabisan.

7.    RAJAB, 
artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.

8.    SYA'BAN,
 artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

9.    RAMADHAN,
artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat menaklukan kaum musyrik dalam perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

10. SYAWWAL,
 artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang membahagiakan.

11. DZULQAIDAH,
berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.

12. DZULHIJJAH 
artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.


Arti dari Nama Hari pada Penanggalan Hijriyah

Adapun mengenai nama-nama hari, diberi nama sesuai dengan urutannya. Serupa kiranya dengan penamaan hari pada bangsa Jepang. Yakni:

1.    al-Ahad (Minggu)
artinya hari pertama. Hingga kini dikampung-kampung masih terdengar orang-orang tua menyebut “ari akad” atau “ari ahad”. Serta “Pakan Akaik” atau berarti Pekan Ahad.

2.    al-Itsnayn (Senin)
artinya hari kedua. Dikampung-kampung masih terdengar orang tua-tua menyebut “ari Sanayan” atau Pakan Sinayan.

3.    ats-Tsalaatsa' (Selasa)
artinya hari ke tiga.

4.    al-Arba'aa / ar-Raabi' (Rabu)
artinya hari ke empat. Dikampung-kampung masih terdengar orang tua-tua menyebut “Ari Raba’a” atau Pasa Raba’a.

5.    al-Khamsatun (Kamis)
artinya: hari ke lima

6.    al-Jumu'ah (Jumat)
artinya: hari berkumpul. Dimana hari ini merupakan hari yang disucikan oleh umat muslim dengan memperbanyak ibadah dan berkumpul di dalam masjid pada pelaksanaan Shalat Jum’at.

7.    as-Saba’ah (Sabtu)
artinya: hari ketujuh. Kalau kita simak Orang Yahudi merayakan hari Sabat yang makna atau fungsinya sama dengan hari Jum’at oleh kita umat Muslim. Kita lihat bahasa mereka tidak jauh berbeda dengan bahasa Arab. Memang, karena bahasa mereka masih satu rumpun dengan Bahasa Arab.




Daftar Bacaan











[1] Dalam salah satu versi sejarah disebutkan bahwa sahabat yang bermufakat dengan khalifah itu ialah: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Said bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.
[2] Menurut salah satu sumber sejarah yang mengusulkan hal tersebut ialah Saidina Ali bin Abi Thalib.
[3] Qamariyyah artinya menghitung bilangan hari dalam satu bulan berdasarkan peredaran bulan. Sedangkan Syamsiyyah merupakan penghitungan bilangan tahun berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari.
[4] Bulan tambahan ini disebut “ Nasi’ ”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar