Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dari Koran Lama


Dari Masa Dahulu


Berikut ini kami sajikan suatu petikan di salah satu bagian pada salah satu majalah lama yang terbit di Sumatera Barat. Nama majalah tersebut ialah “Pengantar”, diterbitkan di Sawahlunto. Petikan yang kami sajikan terbit pada Bulan Agustus tahun 1939, yang merupakan tahun keempat dari penerbitan majalah ini.


Kami merasa sangat perlu sekali menyajikan salah satu petikan dari salah satu isi dari majalah ini. Untuk mempermudah bagi tuan memahaminya maka isi kolom "Adakh Tuan Ketahui Bahwa" dapat kita samakan dengan kolom serba-serbi, tips, pengetahuan, atau Tahukah Anda? pada koran ataupun majalah masa sekarang. Sebagai anak Melayu, kami sudah lama kagum dengan bahasa yang digunakan oleh datuk-datuk kita pada masa dahulu. Sungguh halus dan dalam makna perkataan mereka. Bagi orang sekarang, bahasa orang dahulu tentulah lawak dan menggelikan. Sehingga tak jarang beberapa anak muda menjadikan bahasa lama sebagai bahan olok-olokan.

Kami adalah pengagum sastera Melayu Lama, dan oleh karena itulah maka hati kami semakin berat rasanya untuk menerbitkan tulisan ini dalam blog kami ini. Tentunya kami telah melakukan beberapa penyesuaian, yakni dalam penulisan huruf. Kami menyesuaikan penulisan dengan keadaan pembaca pada masa sekarang. Sebab jika kami gunakan huruf dengan ejaan lama maka kemungkinan pembaca sekarang akan mengalami kesusahan. Sedangkan dalam segi isi masih sama, tidak kami ubah.

Kami harap tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita perihal kearifan kehidupan orang pada masa dahulu. Selamat menikmati..

Selasa, 27 Maret 2012

Dunsanak dari Negeri Aceh


Saudara dari Aceh

Rumah Adat Aceh
Sungguh senang hati ini bila bersua dengan saudara jauh yang datang bertandang. Walaupun tidak ada hubungan keluarga namun rasa persaudaraan antara sesama anak Melayu dan sesama umat Muhammad sudah cukup sebagai perakat rasa persaudaraan kami. Namanya Adnan usianya kira-kira akhir tigapuluhan dan awal empatpuluhan. Pekerjaannya ialah sopir, berkesempatan datang ke kota tempat ku mencari hidup ini dikarenakan dia membawa rombongan para bikers.
Berbeda dengan para sopir yang ku kenal, beliau ini orangnya ramah, murah senyum dan suka bercakap-cakap. Tingginya sekitar 156 cm, badannya tegap berisi, kulit sawo matang, dengan kumis menghiasi wajahnya. Tidak ada tato yang dirajah ke badannya. Penampilannya sederhana, pakai sandal jepit (swallow biru) yang sudah usang, baju kaos berkrah, dan celana katun. Baju dan celana yang dipakainya sudah lusuh.
Sungguh penampilan yang sederhana, kalau beliau tidak tersenyum niscaya angkerlah tampangnya. Namun tidak demikian, lelaki ini sungguh murah senyum. Adnan, demikianlah namanya, berasal dari Banda Aceh tepatnya kampungnya berada 10 Km dari kota tersebut. Beliau memiliki minat yang besar terhadap sejarah. Lama beliau berpelancongan di Museum Goedang Ransoem. Bertanya pada ku perihal sejarah museum dan sedikit-sedikit perihal sejarah Kota Sawahlunto.
Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dari Koran Lama


Dari Masa Dahulu


Berikut ini kami sajikan suatu petikan di salah satu bagian pada salah satu majalah lama yang terbit di Sumatera Barat. Nama majalah tersebut ialah “Pengantar”, diterbitkan di Sawahlunto. Petikan yang kami sajikan terbit pada Bulan Agustus tahun 1939, yang merupakan tahun keempat dari penerbitan majalah ini.


Kami merasa sangat perlu sekali menyajikan salah satu petikan dari salah satu isi dari majalah ini. Untuk mempermudah bagi tuan memahaminya maka isi kolom "Adakh Tuan Ketahui Bahwa" dapat kita samakan dengan kolom serba-serbi, tips, pengetahuan, atau Tahukah Anda? pada koran ataupun majalah masa sekarang. Sebagai anak Melayu, kami sudah lama kagum dengan bahasa yang digunakan oleh datuk-datuk kita pada masa dahulu. Sungguh halus dan dalam makna perkataan mereka. Bagi orang sekarang, bahasa orang dahulu tentulah lawak dan menggelikan. Sehingga tak jarang beberapa anak muda menjadikan bahasa lama sebagai bahan olok-olokan.

Kami adalah pengagum sastera Melayu Lama, dan oleh karena itulah maka hati kami semakin berat rasanya untuk menerbitkan tulisan ini dalam blog kami ini. Tentunya kami telah melakukan beberapa penyesuaian, yakni dalam penulisan huruf. Kami menyesuaikan penulisan dengan keadaan pembaca pada masa sekarang. Sebab jika kami gunakan huruf dengan ejaan lama maka kemungkinan pembaca sekarang akan mengalami kesusahan. Sedangkan dalam segi isi masih sama, tidak kami ubah.

Kami harap tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita perihal kearifan kehidupan orang pada masa dahulu. Selamat menikmati..

Selasa, 27 Maret 2012

Dunsanak dari Negeri Aceh


Saudara dari Aceh

Rumah Adat Aceh
Sungguh senang hati ini bila bersua dengan saudara jauh yang datang bertandang. Walaupun tidak ada hubungan keluarga namun rasa persaudaraan antara sesama anak Melayu dan sesama umat Muhammad sudah cukup sebagai perakat rasa persaudaraan kami. Namanya Adnan usianya kira-kira akhir tigapuluhan dan awal empatpuluhan. Pekerjaannya ialah sopir, berkesempatan datang ke kota tempat ku mencari hidup ini dikarenakan dia membawa rombongan para bikers.
Berbeda dengan para sopir yang ku kenal, beliau ini orangnya ramah, murah senyum dan suka bercakap-cakap. Tingginya sekitar 156 cm, badannya tegap berisi, kulit sawo matang, dengan kumis menghiasi wajahnya. Tidak ada tato yang dirajah ke badannya. Penampilannya sederhana, pakai sandal jepit (swallow biru) yang sudah usang, baju kaos berkrah, dan celana katun. Baju dan celana yang dipakainya sudah lusuh.
Sungguh penampilan yang sederhana, kalau beliau tidak tersenyum niscaya angkerlah tampangnya. Namun tidak demikian, lelaki ini sungguh murah senyum. Adnan, demikianlah namanya, berasal dari Banda Aceh tepatnya kampungnya berada 10 Km dari kota tersebut. Beliau memiliki minat yang besar terhadap sejarah. Lama beliau berpelancongan di Museum Goedang Ransoem. Bertanya pada ku perihal sejarah museum dan sedikit-sedikit perihal sejarah Kota Sawahlunto.