Tampilkan postingan dengan label Surat Kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Kabar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dari Koran Lama


Dari Masa Dahulu


Berikut ini kami sajikan suatu petikan di salah satu bagian pada salah satu majalah lama yang terbit di Sumatera Barat. Nama majalah tersebut ialah “Pengantar”, diterbitkan di Sawahlunto. Petikan yang kami sajikan terbit pada Bulan Agustus tahun 1939, yang merupakan tahun keempat dari penerbitan majalah ini.


Kami merasa sangat perlu sekali menyajikan salah satu petikan dari salah satu isi dari majalah ini. Untuk mempermudah bagi tuan memahaminya maka isi kolom "Adakh Tuan Ketahui Bahwa" dapat kita samakan dengan kolom serba-serbi, tips, pengetahuan, atau Tahukah Anda? pada koran ataupun majalah masa sekarang. Sebagai anak Melayu, kami sudah lama kagum dengan bahasa yang digunakan oleh datuk-datuk kita pada masa dahulu. Sungguh halus dan dalam makna perkataan mereka. Bagi orang sekarang, bahasa orang dahulu tentulah lawak dan menggelikan. Sehingga tak jarang beberapa anak muda menjadikan bahasa lama sebagai bahan olok-olokan.

Kami adalah pengagum sastera Melayu Lama, dan oleh karena itulah maka hati kami semakin berat rasanya untuk menerbitkan tulisan ini dalam blog kami ini. Tentunya kami telah melakukan beberapa penyesuaian, yakni dalam penulisan huruf. Kami menyesuaikan penulisan dengan keadaan pembaca pada masa sekarang. Sebab jika kami gunakan huruf dengan ejaan lama maka kemungkinan pembaca sekarang akan mengalami kesusahan. Sedangkan dalam segi isi masih sama, tidak kami ubah.

Kami harap tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita perihal kearifan kehidupan orang pada masa dahulu. Selamat menikmati..

Sabtu, 05 November 2011

Lambaian dari masa dahulu II


Tulisan ini merupakan lanjutand dari tulisan edisi sebelumnya. Masih dimuat di surat kabar Soeara Boemi Poetera. 

7 Februoeari 1926

Sebagai verslag[1] dari kita punya dienstreis[2], di bawah ini dilukiskan pendengaran-pendengaran yang kira-kira boleh juga menyenangkan telinga.
1
Tuan
:
Kenapa kwee[3] datang telaat?
Engku
:
Kalau kwee datang telat, barangkali tuan sudah lapar, saya boleh tolong liat-liat dipintu, dan kalau kwee sudah datang saja boleh panggil buat tuan.[4]
Tuan
:
Nee...!! Saya tidak mau makan tetapi kwee (dengan menunjuk kepada engku) kenapa datang telat kerja?
Engku
:
O.. tuan mau bilang diri saya!? Tentu saya salah mengerti, kerna itu perkataan kwee bukan perkataan Melayu, tetapi itu cara tangsi. Lain kali tuan boleh panggil “engku” atau saya punya pangkat.
Tuan
:
Ya, saya tidak begitu bisa cara Melayu.
Engku
:
Tuan mesti ajar sedikit-sedikit, sebab tuan tinggal di Negeri Melayu.
Tuan
:
Nou!............!!!

2
Tuan
:
Kenapa waang tidak bikin kelar itu kerja?
Engku
:
Tuan! Saya sudah berpangkat penghulu dan sudah bergelar Datuk. Kurang baik kalau Tuan panggil waang di muka orang banyak.
Tuan
:
Ya, banyak susah sama orang Melayu.[5] Lihat adat orang Belanda, sedang satu anak boleh panggil jij[6] kepada Bapaknya. Gampang Bukan?
Engku
:
Kalau orang Melayu, satu anak panggil jij kepada Bapaknya, tentu anak itu masuk neraka hidup-hidup.
Tuan
:
Jadi apa saya musti panggil waang?
Engku
:
Jangan tuan ulang juga. Kalau tuan mau panggil saya, boleh sebut saya punya gelar, atau pangkat. Tuan lihat di hoofdbereau[7] S.S Padang, di sana tuan-tuan sampai mengerti Adat Melayu, kalau gelar orang Datuk dipanggil Datuk, kalau Sutan dipanggil Sutan, atau sekurang-kurangnya perkataan “engku”. Manis bukan?
Tuan
:
Jooahh!!

3
Tuan
:
Hei! Hei! (sekali lagi) Hei!
Engku
:
............ (diam saja)
Tuan
:
Hei! Hei! Apa tidak dengar?
Engku
:
Ya, saya dengar, tetapi itu “hei” bukan saya punya nama.
Tuan
:
Ach.. banyak cincong, toch dalam dienst (layanan).
Engku
:
Betul dalam dienst, tetapi pakai adat juga.





[1] Laporan
[2] Misi
[3] Bahasa Cina, artinya kamu
[4] Si Engku mengira, kalau yang dimaksudkan oleh si Tuan ialah kue.
[5] Dimasa kolonial, selain disebut dengan sebutan Orang Minangkabau secara resmi, suku bangsa Minang lebih dikenal dengan sebutan Orang Melayu.
[6] Kamu
[7] Markas Besar

Tampilkan postingan dengan label Surat Kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Kabar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dari Koran Lama


Dari Masa Dahulu


Berikut ini kami sajikan suatu petikan di salah satu bagian pada salah satu majalah lama yang terbit di Sumatera Barat. Nama majalah tersebut ialah “Pengantar”, diterbitkan di Sawahlunto. Petikan yang kami sajikan terbit pada Bulan Agustus tahun 1939, yang merupakan tahun keempat dari penerbitan majalah ini.


Kami merasa sangat perlu sekali menyajikan salah satu petikan dari salah satu isi dari majalah ini. Untuk mempermudah bagi tuan memahaminya maka isi kolom "Adakh Tuan Ketahui Bahwa" dapat kita samakan dengan kolom serba-serbi, tips, pengetahuan, atau Tahukah Anda? pada koran ataupun majalah masa sekarang. Sebagai anak Melayu, kami sudah lama kagum dengan bahasa yang digunakan oleh datuk-datuk kita pada masa dahulu. Sungguh halus dan dalam makna perkataan mereka. Bagi orang sekarang, bahasa orang dahulu tentulah lawak dan menggelikan. Sehingga tak jarang beberapa anak muda menjadikan bahasa lama sebagai bahan olok-olokan.

Kami adalah pengagum sastera Melayu Lama, dan oleh karena itulah maka hati kami semakin berat rasanya untuk menerbitkan tulisan ini dalam blog kami ini. Tentunya kami telah melakukan beberapa penyesuaian, yakni dalam penulisan huruf. Kami menyesuaikan penulisan dengan keadaan pembaca pada masa sekarang. Sebab jika kami gunakan huruf dengan ejaan lama maka kemungkinan pembaca sekarang akan mengalami kesusahan. Sedangkan dalam segi isi masih sama, tidak kami ubah.

Kami harap tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita perihal kearifan kehidupan orang pada masa dahulu. Selamat menikmati..

Sabtu, 05 November 2011

Lambaian dari masa dahulu II


Tulisan ini merupakan lanjutand dari tulisan edisi sebelumnya. Masih dimuat di surat kabar Soeara Boemi Poetera. 

7 Februoeari 1926

Sebagai verslag[1] dari kita punya dienstreis[2], di bawah ini dilukiskan pendengaran-pendengaran yang kira-kira boleh juga menyenangkan telinga.
1
Tuan
:
Kenapa kwee[3] datang telaat?
Engku
:
Kalau kwee datang telat, barangkali tuan sudah lapar, saya boleh tolong liat-liat dipintu, dan kalau kwee sudah datang saja boleh panggil buat tuan.[4]
Tuan
:
Nee...!! Saya tidak mau makan tetapi kwee (dengan menunjuk kepada engku) kenapa datang telat kerja?
Engku
:
O.. tuan mau bilang diri saya!? Tentu saya salah mengerti, kerna itu perkataan kwee bukan perkataan Melayu, tetapi itu cara tangsi. Lain kali tuan boleh panggil “engku” atau saya punya pangkat.
Tuan
:
Ya, saya tidak begitu bisa cara Melayu.
Engku
:
Tuan mesti ajar sedikit-sedikit, sebab tuan tinggal di Negeri Melayu.
Tuan
:
Nou!............!!!

2
Tuan
:
Kenapa waang tidak bikin kelar itu kerja?
Engku
:
Tuan! Saya sudah berpangkat penghulu dan sudah bergelar Datuk. Kurang baik kalau Tuan panggil waang di muka orang banyak.
Tuan
:
Ya, banyak susah sama orang Melayu.[5] Lihat adat orang Belanda, sedang satu anak boleh panggil jij[6] kepada Bapaknya. Gampang Bukan?
Engku
:
Kalau orang Melayu, satu anak panggil jij kepada Bapaknya, tentu anak itu masuk neraka hidup-hidup.
Tuan
:
Jadi apa saya musti panggil waang?
Engku
:
Jangan tuan ulang juga. Kalau tuan mau panggil saya, boleh sebut saya punya gelar, atau pangkat. Tuan lihat di hoofdbereau[7] S.S Padang, di sana tuan-tuan sampai mengerti Adat Melayu, kalau gelar orang Datuk dipanggil Datuk, kalau Sutan dipanggil Sutan, atau sekurang-kurangnya perkataan “engku”. Manis bukan?
Tuan
:
Jooahh!!

3
Tuan
:
Hei! Hei! (sekali lagi) Hei!
Engku
:
............ (diam saja)
Tuan
:
Hei! Hei! Apa tidak dengar?
Engku
:
Ya, saya dengar, tetapi itu “hei” bukan saya punya nama.
Tuan
:
Ach.. banyak cincong, toch dalam dienst (layanan).
Engku
:
Betul dalam dienst, tetapi pakai adat juga.





[1] Laporan
[2] Misi
[3] Bahasa Cina, artinya kamu
[4] Si Engku mengira, kalau yang dimaksudkan oleh si Tuan ialah kue.
[5] Dimasa kolonial, selain disebut dengan sebutan Orang Minangkabau secara resmi, suku bangsa Minang lebih dikenal dengan sebutan Orang Melayu.
[6] Kamu
[7] Markas Besar