Tampilkan postingan dengan label Sawahlunto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sawahlunto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dari Koran Lama


Dari Masa Dahulu


Berikut ini kami sajikan suatu petikan di salah satu bagian pada salah satu majalah lama yang terbit di Sumatera Barat. Nama majalah tersebut ialah “Pengantar”, diterbitkan di Sawahlunto. Petikan yang kami sajikan terbit pada Bulan Agustus tahun 1939, yang merupakan tahun keempat dari penerbitan majalah ini.


Kami merasa sangat perlu sekali menyajikan salah satu petikan dari salah satu isi dari majalah ini. Untuk mempermudah bagi tuan memahaminya maka isi kolom "Adakh Tuan Ketahui Bahwa" dapat kita samakan dengan kolom serba-serbi, tips, pengetahuan, atau Tahukah Anda? pada koran ataupun majalah masa sekarang. Sebagai anak Melayu, kami sudah lama kagum dengan bahasa yang digunakan oleh datuk-datuk kita pada masa dahulu. Sungguh halus dan dalam makna perkataan mereka. Bagi orang sekarang, bahasa orang dahulu tentulah lawak dan menggelikan. Sehingga tak jarang beberapa anak muda menjadikan bahasa lama sebagai bahan olok-olokan.

Kami adalah pengagum sastera Melayu Lama, dan oleh karena itulah maka hati kami semakin berat rasanya untuk menerbitkan tulisan ini dalam blog kami ini. Tentunya kami telah melakukan beberapa penyesuaian, yakni dalam penulisan huruf. Kami menyesuaikan penulisan dengan keadaan pembaca pada masa sekarang. Sebab jika kami gunakan huruf dengan ejaan lama maka kemungkinan pembaca sekarang akan mengalami kesusahan. Sedangkan dalam segi isi masih sama, tidak kami ubah.

Kami harap tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita perihal kearifan kehidupan orang pada masa dahulu. Selamat menikmati..

Sabtu, 12 Mei 2012

Ujung Pelangi


Harta di Ujung Pelangi


Pernahkah engku melihat pelangi, tentunya pernah bukan. Melihat pelangi merupakan perkara yang langka, sebab taK muncul tiap harinya. Munculnya pabila hujan turun di kala cuaca cerah atau kata orang kampung bilang ujan paneh. Tidak selalu ada ujan panas, kadang-kadang.
Tahukah engku dalam masyarakat Asia Timur dikenal sebuah legenda yang bernama Siluman Rubah Berekor Sembilan. Konon menurut yang ampunya cerita, pabila hujan dikala hari cerah merupakan suatu pertanda Siluman Rubah sedang menangis. Sungguh cerita rakyat yang menarik.
Namun bukan perkara cerita rakyat dari Asia Timur yang hendak kami bahas pada tulisan kita kali ini. Kami akan mencoba membagi salah satu pengalaman hidup yang jarang kami jumpai. Yakni melihat ujung pelangi, pernahkah engku melihat ujung pelangi?
Pernah ketika kanak-kanak dahulu kami mendapat sebuah cerita dari sebuah majalah kanak-kanak, kalau tak salah nama majalah tersebut ialah “BoBo..”. Ceritanya tentang seorang pemuda dari Negeri Cina yang terkenal akan kepandirannya. Kami tidak begitu dapat mengingat dengan baik kisah tersebut, namun kira-kira begini kisahnya:
Pada suatu masa di Negeri Cina, hiduplah seorang pemuda yang amat sederhana. Selain sederhana dia juga pandir. Pada suatu ketika dia melihat kawannya yang pulang dari merantau, rupanya hidupnya telah makmur dengan harta. Seketika bertanyalah Si Pandir ini kepada kawannya, perihal harta kekayaan yang didapatnya. Sang kawan yang telah maklum akan keadaan Si Pandir, seketika muncul niat usil dalam fikirannya, diapun berkata “Segala harta yang ada pada ku ini, ku dapat dengan mencari emas yang terdapat di ujung pelangi.”
Mendengar hal yang semacam itu maka tercenganglah Si Pandir, kemudian diapun berniat “Pabila nanti pelangi muncul maka akan ku telusuri sampai ke ujungnya..”

Minggu, 22 April 2012

Musik Keroncong_2


Musik Khas Indonesia


Kelompok Musik Keroncong Malaysia
Pertumbuhan Musik Keroncong
Semenjak awal lahirnya di Indonesia yakni pada tahun 1661 musik ini terus mengalami perubahan. Namun sayangnya tidak terdapat sumber yang menggambarkan perkembangan musik keroncong dari masa 1661-1880. 1880 dijadikan patokan dalam perkembangan musik keroncong selanjutnya karena pada tahun ini ditemukan alat musik petik sejenis Ukulele khas Hawai yang sangat berperan besar dalam pertumbuhan musik keroncong di Indonesia. Ukulele sendiri sudah lama dikenal oleh Bangsa Portugis yang oleh mereka disebut dengan nama Jukulele atau croucho yang berarti kecil. Hal ini karena ukulele merupakan sejenis gitar dengan ukuran kecil dengan jumlah senar empat atau tiga.
Ukulele dari Hawai ini kemudian dikawinkan dengan Ukulelle dari Braguinha[1] sehingga menjadi alat musik khas bagi keroncong di Indonesia. Selain itu dalam pertumbuhan musik ini dipakailah beberapa instrumen tradisional seperti gamelan dan gong yang merupakan alat musik tradisional dari Jawa.
Asal Mula Nama “Keroncong”
Ada kesepakatan diantara para ahli bahwa nama keroncong berasal dari alat musik ukulele yang memiliki bunyi khas “crong..crong..”. Sehingga terkenallah musik ini dengan nama “Keroncong”. Walau berasal dari bunyi salah satu alat musik yang dipakai dalam kesenian ini, namun hal tersebut tidak mengurangi maknanya. Keroncong ialah sebuah seni musik yang berasal dari perpaduan beragam alat musik yang dimainkan bersama.
Alat-alat musik yang dipakai dalam keroncong ialah: ukulele, gitar, biola, seruling, gendang, gamelan, gong, dan beberapa alat musik lainnya. Pada masa sekarang keroncong juga diiringi dengan menggunakan alat musik organ tunggal.

Sabtu, 21 April 2012

Musik Keroncong_1


Perbauran Beragam Budaya


Biola
Seni Musik merupakan salah satu bentuk kesenian yang hampir dimiliki oleh setiap kebudayaan di dunia. Dengan beragam bentuk dan kekhasannya menjadikan musik sebagai identitas bagi suatu kebudayaan. Corak musik yang dimiliki oleh suatu kebudayaan tentunya berbeda dengan musik yang dimiliki kebudayaan lain. Apakah itu dari segi alat musik ataupun irama langgam lagu yang dimainkan. Pada masa sekarang musik telah menjadi bahasa yang mendunia (universal). Beberapa orang sangat menikmati alunan musik dan lagu dari suatu daerah tertentu, walaupun mereka tidak dapat memahami bahasa yang digunakan oleh si penyanyi.
Indonesia memiliki kekayaan dalam segi suku dan budaya. Dari keragaman budaya ini, patut kiranya kita ambil contoh musik sebagai salah satu bentuk dari keragaman budaya. Tentunya yang kami maksudkan disini ialah musik etnik bukan musik pop. Dalam hal ini kami akan mengambil contoh yang lebih kecil yaitu musik keroncong. Musik ini sangatlah unik karena tidak mencerminkan budaya dari salah satu daerah di Indonesia. Melainkan sebagai bukti dari percampuran dari beberapa budaya yang kemudian melahirkan musik yang khas Indonesia.
Lazimnya di Indonesia, sejarah selalu menuai perdebatan, begitu pulalah kiranya dengan Sejarah Musik Keroncong di Indonesia. Dalam tulisan ini akan dikemukakan salah satu versi dari sejarah kelahiran musik Keroncong. Di akhir tulisan akan coba kami bahas perihal Musik Keroncong di Kota Sawahlunto Sumatera Barat.

Musik Tuan & Para Budak
Portugis merupakan salah satu dari negara-negara Eropa yang merintis perjalanan ke Timur. Pada tahun 1512 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque Bangsa Portugis mulai menginjakkan kakinya di nusantara. Tujuannya ialah Sumber Daya Alam yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang di Eropa ketika itu, yakni rempah-rempah. Alfonso mengomandani beberapa orang pelaut dan para budak. Para budak di dapat dari daerah kekuasaan Portugis di India yakni Gowa, Malabar, dan Benggali.[1]
Guitara
Setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis maka berdiamlah di sana Bangsa Portugis beserta para budaknya tersebut. Para budak tersebut tidak hanya berasal dari India saja, karena semenjak kedatangan Portugis ke Ambon mereka juga membawa budak dari sana. Di Ambo-Maluku, Portugis sempat mengobarkan perang dengan Kerajaan Ternate dan Tidore. Hasil dari peperangan tersebut ialah Portugis terusir dari Maluku.
Malaka yang dikuasai Portugis menjadi benteng utama dalam menghadapi Kaum Moor[2] yang juga terdapat di kepulauan ini. Selain untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah tentunya. Bandar terbesar di Nusantara ini jatuh ke tangan  Portugis pada tahun 1511, setahun lebih awal dari kedatangan mereka ke Indonesia. Di Malaka Portugis sempat membina kehidupan, beberapa peninggalan Bangsa Portugis masih dapat kita saksikan di kota itu hingga kini. Kemungkinan di Malaka inilah seni tradisional rakyat Portugis yang bernama fado tersebar kepada para budak.
Fado merupakan seni tradisional rakyat Portugis. Akar dari kata Fado merujuk ke bahasa Latin: fatum, dapat kita padankan dengan kata fate dalam Bahasa Inggris yang artinya ialah nasib. Karakteristik musik ini ialah irama dan syairnya yang sentimental-melankolis. Menceritakan mengenai lautan, kehidupan masyarakat miskin, ataupun persahabatan. Sebagian ahli berpendapat bahwa musik ini memiliki akar pada peradaban Bangsa Moor di Semenanjung Iberia[3] pada masa silam.
Keadaan yang jauh dari kampung halaman bagi pelaut Portugis dan nasib sebagai budak yang ditahan oleh bangsa asing di negeri asing oleh para budak, telah membuka dan berkembangnya masuknya musik fado yang sentimental-melankolis. Pada perkembangannya musik ini tidak hanya dimainkan oleh Bangsa Portugis akan tetapi juga oleh para budak mereka dari Benggali, Malabar, Goa dan Maluku.
Pada tahun 1648 Belanda merebut Malaka dari Portugis. Banyak tawanan perang yang ditawan beserta para budak mereka dibawa ke Batavia yang pada masa itu merupakan pusat kekuasaan Belanda di Asia Tenggara. Para tawanan ini kemudian ditempatkan oleh Belanda pada suatu kawasan yang bernama Tanah Serani yang kelak bernama Kampung Tugu. Daerah ini berada di tepi laut, udaranya panas, dan sangat jarang ditemukan air asin. Kalaupun ada sumur, kebanyakan airnya asin pula.

Selasa, 27 Maret 2012

Dunsanak dari Negeri Aceh


Saudara dari Aceh

Rumah Adat Aceh
Sungguh senang hati ini bila bersua dengan saudara jauh yang datang bertandang. Walaupun tidak ada hubungan keluarga namun rasa persaudaraan antara sesama anak Melayu dan sesama umat Muhammad sudah cukup sebagai perakat rasa persaudaraan kami. Namanya Adnan usianya kira-kira akhir tigapuluhan dan awal empatpuluhan. Pekerjaannya ialah sopir, berkesempatan datang ke kota tempat ku mencari hidup ini dikarenakan dia membawa rombongan para bikers.
Berbeda dengan para sopir yang ku kenal, beliau ini orangnya ramah, murah senyum dan suka bercakap-cakap. Tingginya sekitar 156 cm, badannya tegap berisi, kulit sawo matang, dengan kumis menghiasi wajahnya. Tidak ada tato yang dirajah ke badannya. Penampilannya sederhana, pakai sandal jepit (swallow biru) yang sudah usang, baju kaos berkrah, dan celana katun. Baju dan celana yang dipakainya sudah lusuh.
Sungguh penampilan yang sederhana, kalau beliau tidak tersenyum niscaya angkerlah tampangnya. Namun tidak demikian, lelaki ini sungguh murah senyum. Adnan, demikianlah namanya, berasal dari Banda Aceh tepatnya kampungnya berada 10 Km dari kota tersebut. Beliau memiliki minat yang besar terhadap sejarah. Lama beliau berpelancongan di Museum Goedang Ransoem. Bertanya pada ku perihal sejarah museum dan sedikit-sedikit perihal sejarah Kota Sawahlunto.

Kamis, 15 Desember 2011

Beda Politikus dengan Non Politik

Dari Kota Tambang ke Kota Wisata
Visi seorang Pemimpin


Tidak seorangpun yang akan menyangka, bahkan penduduk Sawahlunto sekalipun. Bahwa kota mereka yang berada diambang pesimisme berhasil kembali bergairah gerak kehidupannya. Siapa gerangan yang akan mengira, bahwa kota yang selama ini mengandalkan batubara sebagai andalan utama dalam menggerak segenap kehidupan warganya akan berubah haluan.

Kota ini pernah mengalamai sakaratul maut, bagaimana tidak. Batubara yang lebih selama satu abad ditambang di kota ini telah begitu menyatu dengan warganya. Menjalar menjadi urat nadi di kehidupan warga kota ini. Karena batubara kota ini lahir, karena batubara kota ini hidup, akankah karena batubara jua kota ini mati?


Telah banyak yang pindah dari kota ini begitu produksi batubara mengalami penurunan. Menjual segenap harta benda yang dimiliki dan pindah ke daerah lain guna memulai lembaran baru. Namun segala berubah. Berubah hanya karena satu orang, ya..cukup satu orang untuk mengubah segalanya.

Tahun 2003 merupakan titik balik dari ini semua, pada tahun ini kereta api berhenti merayap di Sumatera Barat. Selama ini, jalur kereta api hanya dilalui oleh kereta pengangkut batubara dari Sawahlunto ke Telukbayur, lain tidak. Telah lama jalur kereta api di tempat lain di Sumatera Barat tidak digunakan. Kereta sebagai pengangkut manusia telah tiada, yang ada hanya kereta pengangkut baro (batubara).

Pada tahun inipula Kota Sawahlunto dipimpin oleh orang baru, orang dengan visi baru,dan dengan ide baru. Talawi kampungnya, Sawahlunto kotanya. Namanya Amran Nur, seorang insyinyur teknik tamatan ITB. Entah apa yang ada dibenaknya, yang jelas sekarang dia yang menjadi pemimpin di Sawahlunto. Kata orang dia pemarah, mejapun bisa terbang jika dipukulnya, jika seorang pejabat kena panggil ke kantor balaikota alamat badan tak selamat, menggillah badannya, mengalirlah keringat dingin disekujur tubuhnya.

Selasa, 05 Juli 2011

hidup sederhana lebih baik


Hikmah Bagi Kota Kecil

Pada apel bulanan di halaman Balaikota kemarin, Walikota Sawahlunto Bapak Amran Nur memberikan kabar yang membahagiakan yakni Sawahlunto mendapat urutan nomor dua dari bawah untuk angka kemiskinan. Untuk seluruh pemerintah tingkat dua se Indonesia, Sawahlunto lebih baik dalam hal pemerataan ekonomi dengan tingkat kemiskinan hanya 2%. Padahal, menurut Pak Wali beberapa daerah tingkat dua lainnya di Sumatera Barat ada yang mencapai angka hingga 12%.

Banyak juga yang beranggapan bahwa hal ini wajar untuk kota kecil seperti Sawahlunto, tapi benarkah demikian? Secara administratif kota ini memiliki luas 27.344,7 H atau 273 Km2[1] membentang dari Talawi hingga Silungkang dan Muarokalaban. Mungkin yang dimaksud dengan kota kecil ialah pusat kota yang merupakan wilayah kota lama sebelum pemekaran yang hanya berluas 5,86 Km2[2]. Banyak yang telah salah paham terhadap Sawahlunto. Atau mungkin mencemooh, kok sebagian besar wilayah kota masih bernuasa pedesaan?

Senin, 04 Juli 2011

Selayang Pandang


Kota Warisan

Sawahlunto merupakan satu-satunya kota di Sumatera Barat yang masih memelihara beragam bangunan peninggalan kolonial. Jadi tidak salah pabila dikatakan sebagai “Belanda Kecil” karena hingga kini kita masih dapat menikmati peninggalan dari masa lalu. Itu semua disajikan gratis, dapat kita nikmati jika kita mengunjungi Kota Tua yang terletak di daerah yang dulunya merupakan bekas areal persawahan milik penduduk Nagari Lunto.

Beberapa bangunan sudah dipercantik, perumahan buruh tambang yang dulunya tidak tertata dengan baik dan sama sekali tidak ada sedapnya untuk dipandang, sekarang telah tertata dengan baik. Tentu saja sekarang yang tinggal disana tidak seluruhnya buruh tambang, sebab pertambangan di Sawahlunto sudah menanti ajal, sakaratul maut. Oleh karena itu, peralihan dari dunia tambang ke dunia pariwisata sedang gencar-gencarnya di “propagandakan”.
Tampilkan postingan dengan label Sawahlunto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sawahlunto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dari Koran Lama


Dari Masa Dahulu


Berikut ini kami sajikan suatu petikan di salah satu bagian pada salah satu majalah lama yang terbit di Sumatera Barat. Nama majalah tersebut ialah “Pengantar”, diterbitkan di Sawahlunto. Petikan yang kami sajikan terbit pada Bulan Agustus tahun 1939, yang merupakan tahun keempat dari penerbitan majalah ini.


Kami merasa sangat perlu sekali menyajikan salah satu petikan dari salah satu isi dari majalah ini. Untuk mempermudah bagi tuan memahaminya maka isi kolom "Adakh Tuan Ketahui Bahwa" dapat kita samakan dengan kolom serba-serbi, tips, pengetahuan, atau Tahukah Anda? pada koran ataupun majalah masa sekarang. Sebagai anak Melayu, kami sudah lama kagum dengan bahasa yang digunakan oleh datuk-datuk kita pada masa dahulu. Sungguh halus dan dalam makna perkataan mereka. Bagi orang sekarang, bahasa orang dahulu tentulah lawak dan menggelikan. Sehingga tak jarang beberapa anak muda menjadikan bahasa lama sebagai bahan olok-olokan.

Kami adalah pengagum sastera Melayu Lama, dan oleh karena itulah maka hati kami semakin berat rasanya untuk menerbitkan tulisan ini dalam blog kami ini. Tentunya kami telah melakukan beberapa penyesuaian, yakni dalam penulisan huruf. Kami menyesuaikan penulisan dengan keadaan pembaca pada masa sekarang. Sebab jika kami gunakan huruf dengan ejaan lama maka kemungkinan pembaca sekarang akan mengalami kesusahan. Sedangkan dalam segi isi masih sama, tidak kami ubah.

Kami harap tulisan ini dapat menambah pengetahuan kita perihal kearifan kehidupan orang pada masa dahulu. Selamat menikmati..

Sabtu, 12 Mei 2012

Ujung Pelangi


Harta di Ujung Pelangi


Pernahkah engku melihat pelangi, tentunya pernah bukan. Melihat pelangi merupakan perkara yang langka, sebab taK muncul tiap harinya. Munculnya pabila hujan turun di kala cuaca cerah atau kata orang kampung bilang ujan paneh. Tidak selalu ada ujan panas, kadang-kadang.
Tahukah engku dalam masyarakat Asia Timur dikenal sebuah legenda yang bernama Siluman Rubah Berekor Sembilan. Konon menurut yang ampunya cerita, pabila hujan dikala hari cerah merupakan suatu pertanda Siluman Rubah sedang menangis. Sungguh cerita rakyat yang menarik.
Namun bukan perkara cerita rakyat dari Asia Timur yang hendak kami bahas pada tulisan kita kali ini. Kami akan mencoba membagi salah satu pengalaman hidup yang jarang kami jumpai. Yakni melihat ujung pelangi, pernahkah engku melihat ujung pelangi?
Pernah ketika kanak-kanak dahulu kami mendapat sebuah cerita dari sebuah majalah kanak-kanak, kalau tak salah nama majalah tersebut ialah “BoBo..”. Ceritanya tentang seorang pemuda dari Negeri Cina yang terkenal akan kepandirannya. Kami tidak begitu dapat mengingat dengan baik kisah tersebut, namun kira-kira begini kisahnya:
Pada suatu masa di Negeri Cina, hiduplah seorang pemuda yang amat sederhana. Selain sederhana dia juga pandir. Pada suatu ketika dia melihat kawannya yang pulang dari merantau, rupanya hidupnya telah makmur dengan harta. Seketika bertanyalah Si Pandir ini kepada kawannya, perihal harta kekayaan yang didapatnya. Sang kawan yang telah maklum akan keadaan Si Pandir, seketika muncul niat usil dalam fikirannya, diapun berkata “Segala harta yang ada pada ku ini, ku dapat dengan mencari emas yang terdapat di ujung pelangi.”
Mendengar hal yang semacam itu maka tercenganglah Si Pandir, kemudian diapun berniat “Pabila nanti pelangi muncul maka akan ku telusuri sampai ke ujungnya..”

Minggu, 22 April 2012

Musik Keroncong_2


Musik Khas Indonesia


Kelompok Musik Keroncong Malaysia
Pertumbuhan Musik Keroncong
Semenjak awal lahirnya di Indonesia yakni pada tahun 1661 musik ini terus mengalami perubahan. Namun sayangnya tidak terdapat sumber yang menggambarkan perkembangan musik keroncong dari masa 1661-1880. 1880 dijadikan patokan dalam perkembangan musik keroncong selanjutnya karena pada tahun ini ditemukan alat musik petik sejenis Ukulele khas Hawai yang sangat berperan besar dalam pertumbuhan musik keroncong di Indonesia. Ukulele sendiri sudah lama dikenal oleh Bangsa Portugis yang oleh mereka disebut dengan nama Jukulele atau croucho yang berarti kecil. Hal ini karena ukulele merupakan sejenis gitar dengan ukuran kecil dengan jumlah senar empat atau tiga.
Ukulele dari Hawai ini kemudian dikawinkan dengan Ukulelle dari Braguinha[1] sehingga menjadi alat musik khas bagi keroncong di Indonesia. Selain itu dalam pertumbuhan musik ini dipakailah beberapa instrumen tradisional seperti gamelan dan gong yang merupakan alat musik tradisional dari Jawa.
Asal Mula Nama “Keroncong”
Ada kesepakatan diantara para ahli bahwa nama keroncong berasal dari alat musik ukulele yang memiliki bunyi khas “crong..crong..”. Sehingga terkenallah musik ini dengan nama “Keroncong”. Walau berasal dari bunyi salah satu alat musik yang dipakai dalam kesenian ini, namun hal tersebut tidak mengurangi maknanya. Keroncong ialah sebuah seni musik yang berasal dari perpaduan beragam alat musik yang dimainkan bersama.
Alat-alat musik yang dipakai dalam keroncong ialah: ukulele, gitar, biola, seruling, gendang, gamelan, gong, dan beberapa alat musik lainnya. Pada masa sekarang keroncong juga diiringi dengan menggunakan alat musik organ tunggal.

Sabtu, 21 April 2012

Musik Keroncong_1


Perbauran Beragam Budaya


Biola
Seni Musik merupakan salah satu bentuk kesenian yang hampir dimiliki oleh setiap kebudayaan di dunia. Dengan beragam bentuk dan kekhasannya menjadikan musik sebagai identitas bagi suatu kebudayaan. Corak musik yang dimiliki oleh suatu kebudayaan tentunya berbeda dengan musik yang dimiliki kebudayaan lain. Apakah itu dari segi alat musik ataupun irama langgam lagu yang dimainkan. Pada masa sekarang musik telah menjadi bahasa yang mendunia (universal). Beberapa orang sangat menikmati alunan musik dan lagu dari suatu daerah tertentu, walaupun mereka tidak dapat memahami bahasa yang digunakan oleh si penyanyi.
Indonesia memiliki kekayaan dalam segi suku dan budaya. Dari keragaman budaya ini, patut kiranya kita ambil contoh musik sebagai salah satu bentuk dari keragaman budaya. Tentunya yang kami maksudkan disini ialah musik etnik bukan musik pop. Dalam hal ini kami akan mengambil contoh yang lebih kecil yaitu musik keroncong. Musik ini sangatlah unik karena tidak mencerminkan budaya dari salah satu daerah di Indonesia. Melainkan sebagai bukti dari percampuran dari beberapa budaya yang kemudian melahirkan musik yang khas Indonesia.
Lazimnya di Indonesia, sejarah selalu menuai perdebatan, begitu pulalah kiranya dengan Sejarah Musik Keroncong di Indonesia. Dalam tulisan ini akan dikemukakan salah satu versi dari sejarah kelahiran musik Keroncong. Di akhir tulisan akan coba kami bahas perihal Musik Keroncong di Kota Sawahlunto Sumatera Barat.

Musik Tuan & Para Budak
Portugis merupakan salah satu dari negara-negara Eropa yang merintis perjalanan ke Timur. Pada tahun 1512 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque Bangsa Portugis mulai menginjakkan kakinya di nusantara. Tujuannya ialah Sumber Daya Alam yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang di Eropa ketika itu, yakni rempah-rempah. Alfonso mengomandani beberapa orang pelaut dan para budak. Para budak di dapat dari daerah kekuasaan Portugis di India yakni Gowa, Malabar, dan Benggali.[1]
Guitara
Setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis maka berdiamlah di sana Bangsa Portugis beserta para budaknya tersebut. Para budak tersebut tidak hanya berasal dari India saja, karena semenjak kedatangan Portugis ke Ambon mereka juga membawa budak dari sana. Di Ambo-Maluku, Portugis sempat mengobarkan perang dengan Kerajaan Ternate dan Tidore. Hasil dari peperangan tersebut ialah Portugis terusir dari Maluku.
Malaka yang dikuasai Portugis menjadi benteng utama dalam menghadapi Kaum Moor[2] yang juga terdapat di kepulauan ini. Selain untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah tentunya. Bandar terbesar di Nusantara ini jatuh ke tangan  Portugis pada tahun 1511, setahun lebih awal dari kedatangan mereka ke Indonesia. Di Malaka Portugis sempat membina kehidupan, beberapa peninggalan Bangsa Portugis masih dapat kita saksikan di kota itu hingga kini. Kemungkinan di Malaka inilah seni tradisional rakyat Portugis yang bernama fado tersebar kepada para budak.
Fado merupakan seni tradisional rakyat Portugis. Akar dari kata Fado merujuk ke bahasa Latin: fatum, dapat kita padankan dengan kata fate dalam Bahasa Inggris yang artinya ialah nasib. Karakteristik musik ini ialah irama dan syairnya yang sentimental-melankolis. Menceritakan mengenai lautan, kehidupan masyarakat miskin, ataupun persahabatan. Sebagian ahli berpendapat bahwa musik ini memiliki akar pada peradaban Bangsa Moor di Semenanjung Iberia[3] pada masa silam.
Keadaan yang jauh dari kampung halaman bagi pelaut Portugis dan nasib sebagai budak yang ditahan oleh bangsa asing di negeri asing oleh para budak, telah membuka dan berkembangnya masuknya musik fado yang sentimental-melankolis. Pada perkembangannya musik ini tidak hanya dimainkan oleh Bangsa Portugis akan tetapi juga oleh para budak mereka dari Benggali, Malabar, Goa dan Maluku.
Pada tahun 1648 Belanda merebut Malaka dari Portugis. Banyak tawanan perang yang ditawan beserta para budak mereka dibawa ke Batavia yang pada masa itu merupakan pusat kekuasaan Belanda di Asia Tenggara. Para tawanan ini kemudian ditempatkan oleh Belanda pada suatu kawasan yang bernama Tanah Serani yang kelak bernama Kampung Tugu. Daerah ini berada di tepi laut, udaranya panas, dan sangat jarang ditemukan air asin. Kalaupun ada sumur, kebanyakan airnya asin pula.

Selasa, 27 Maret 2012

Dunsanak dari Negeri Aceh


Saudara dari Aceh

Rumah Adat Aceh
Sungguh senang hati ini bila bersua dengan saudara jauh yang datang bertandang. Walaupun tidak ada hubungan keluarga namun rasa persaudaraan antara sesama anak Melayu dan sesama umat Muhammad sudah cukup sebagai perakat rasa persaudaraan kami. Namanya Adnan usianya kira-kira akhir tigapuluhan dan awal empatpuluhan. Pekerjaannya ialah sopir, berkesempatan datang ke kota tempat ku mencari hidup ini dikarenakan dia membawa rombongan para bikers.
Berbeda dengan para sopir yang ku kenal, beliau ini orangnya ramah, murah senyum dan suka bercakap-cakap. Tingginya sekitar 156 cm, badannya tegap berisi, kulit sawo matang, dengan kumis menghiasi wajahnya. Tidak ada tato yang dirajah ke badannya. Penampilannya sederhana, pakai sandal jepit (swallow biru) yang sudah usang, baju kaos berkrah, dan celana katun. Baju dan celana yang dipakainya sudah lusuh.
Sungguh penampilan yang sederhana, kalau beliau tidak tersenyum niscaya angkerlah tampangnya. Namun tidak demikian, lelaki ini sungguh murah senyum. Adnan, demikianlah namanya, berasal dari Banda Aceh tepatnya kampungnya berada 10 Km dari kota tersebut. Beliau memiliki minat yang besar terhadap sejarah. Lama beliau berpelancongan di Museum Goedang Ransoem. Bertanya pada ku perihal sejarah museum dan sedikit-sedikit perihal sejarah Kota Sawahlunto.

Kamis, 15 Desember 2011

Beda Politikus dengan Non Politik

Dari Kota Tambang ke Kota Wisata
Visi seorang Pemimpin


Tidak seorangpun yang akan menyangka, bahkan penduduk Sawahlunto sekalipun. Bahwa kota mereka yang berada diambang pesimisme berhasil kembali bergairah gerak kehidupannya. Siapa gerangan yang akan mengira, bahwa kota yang selama ini mengandalkan batubara sebagai andalan utama dalam menggerak segenap kehidupan warganya akan berubah haluan.

Kota ini pernah mengalamai sakaratul maut, bagaimana tidak. Batubara yang lebih selama satu abad ditambang di kota ini telah begitu menyatu dengan warganya. Menjalar menjadi urat nadi di kehidupan warga kota ini. Karena batubara kota ini lahir, karena batubara kota ini hidup, akankah karena batubara jua kota ini mati?


Telah banyak yang pindah dari kota ini begitu produksi batubara mengalami penurunan. Menjual segenap harta benda yang dimiliki dan pindah ke daerah lain guna memulai lembaran baru. Namun segala berubah. Berubah hanya karena satu orang, ya..cukup satu orang untuk mengubah segalanya.

Tahun 2003 merupakan titik balik dari ini semua, pada tahun ini kereta api berhenti merayap di Sumatera Barat. Selama ini, jalur kereta api hanya dilalui oleh kereta pengangkut batubara dari Sawahlunto ke Telukbayur, lain tidak. Telah lama jalur kereta api di tempat lain di Sumatera Barat tidak digunakan. Kereta sebagai pengangkut manusia telah tiada, yang ada hanya kereta pengangkut baro (batubara).

Pada tahun inipula Kota Sawahlunto dipimpin oleh orang baru, orang dengan visi baru,dan dengan ide baru. Talawi kampungnya, Sawahlunto kotanya. Namanya Amran Nur, seorang insyinyur teknik tamatan ITB. Entah apa yang ada dibenaknya, yang jelas sekarang dia yang menjadi pemimpin di Sawahlunto. Kata orang dia pemarah, mejapun bisa terbang jika dipukulnya, jika seorang pejabat kena panggil ke kantor balaikota alamat badan tak selamat, menggillah badannya, mengalirlah keringat dingin disekujur tubuhnya.

Selasa, 05 Juli 2011

hidup sederhana lebih baik


Hikmah Bagi Kota Kecil

Pada apel bulanan di halaman Balaikota kemarin, Walikota Sawahlunto Bapak Amran Nur memberikan kabar yang membahagiakan yakni Sawahlunto mendapat urutan nomor dua dari bawah untuk angka kemiskinan. Untuk seluruh pemerintah tingkat dua se Indonesia, Sawahlunto lebih baik dalam hal pemerataan ekonomi dengan tingkat kemiskinan hanya 2%. Padahal, menurut Pak Wali beberapa daerah tingkat dua lainnya di Sumatera Barat ada yang mencapai angka hingga 12%.

Banyak juga yang beranggapan bahwa hal ini wajar untuk kota kecil seperti Sawahlunto, tapi benarkah demikian? Secara administratif kota ini memiliki luas 27.344,7 H atau 273 Km2[1] membentang dari Talawi hingga Silungkang dan Muarokalaban. Mungkin yang dimaksud dengan kota kecil ialah pusat kota yang merupakan wilayah kota lama sebelum pemekaran yang hanya berluas 5,86 Km2[2]. Banyak yang telah salah paham terhadap Sawahlunto. Atau mungkin mencemooh, kok sebagian besar wilayah kota masih bernuasa pedesaan?

Senin, 04 Juli 2011

Selayang Pandang


Kota Warisan

Sawahlunto merupakan satu-satunya kota di Sumatera Barat yang masih memelihara beragam bangunan peninggalan kolonial. Jadi tidak salah pabila dikatakan sebagai “Belanda Kecil” karena hingga kini kita masih dapat menikmati peninggalan dari masa lalu. Itu semua disajikan gratis, dapat kita nikmati jika kita mengunjungi Kota Tua yang terletak di daerah yang dulunya merupakan bekas areal persawahan milik penduduk Nagari Lunto.

Beberapa bangunan sudah dipercantik, perumahan buruh tambang yang dulunya tidak tertata dengan baik dan sama sekali tidak ada sedapnya untuk dipandang, sekarang telah tertata dengan baik. Tentu saja sekarang yang tinggal disana tidak seluruhnya buruh tambang, sebab pertambangan di Sawahlunto sudah menanti ajal, sakaratul maut. Oleh karena itu, peralihan dari dunia tambang ke dunia pariwisata sedang gencar-gencarnya di “propagandakan”.