Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

Suka Cita pada Permulaan


Harapan yang Besar
Tanggung Jawab yang Berat

Hari ini Senin tanggal 15 Oktober 2012 telah dilantik gubernur baru hasil dari pemilihan yang dilakukan oleh rakyat Jakarta pada beberapa waktu yang lalu. Suatu pemilihan yang sngat emosional, diiringi dengan pertarungan sengit dan penuh intrik antara masing-masing pasangan calon. Namun rakyat Jakarta telah menentukan pilihannya, Joko Widodo dan Basuki cahya Purnama (A Hok) muncul sebagai pemenang. Orang yang sama sekali asing dan baru bagi Jakarta. Sang Gubernur merupakan mantan Walikota Solo dan wakilnya merupakan mantan Bupati Bangka.


Tampaknya seluruh orang berbahagia dan bersuka ria pada pengangkatan gubernur baru ini. beberapa stasiun televisi menyiarkan secara langsung pelantikan gubernur Jakarta. Penuh harap dan kebahagian, itulah yang tertangkap pada pelantikan gubernur baru hasil pemilihan rakyat. Orang bijak pernah berujar, kualitas seorang pemimpin merupakan cerminan bagi rakyat yang dipimpinnya. Itulah cerminan orang Jakarta.

Hampir seluruh pendapat yang disiarkan oleh media pada masa pemilihan yang lampau mencerminkan pendapat yang baik mengenai Jokowi, dia adalah seorang pemimpin yang berhasil. Dan itu pulalah harapan orang Jakarta, hendaknya dia juga berhasil di daerah baru yang dipimpinnya. Walauada ada beberapa kekhawatiran yang disuarakan, namun itu luput atau tenggelam dalam berita yang lebih condong ke arah sisi baik yang disiarkan oleh media.

Senin, 01 Oktober 2012

PKI, 1965, & Komunis


 Mencoba Merenungi Negeri


Hari Kesaktian Pancasila, apa gerangan yang terfikirkan oleh tuan? Komunis dan para jendral yang dibantai dan lebih dikenal sebagai Jendral Revolusi di republik ini? atau Komunis yang katanya hendak merebut kekuasaan? Atau kami lebih berpendapat “ingin menyelamatkan dominasi mereka atas pemerintahan Soekarno saat itu”. Bisa juga tuan berpendapat: suatu dongeng pelelap sebelum tidur yang dibacakan oleh Soeharto, kudeta terselubung, campur tangan Amerika, dan lain sebagainya.


Bagi kami orang Minangkabau dan kamipun yakin seluruh umat Islam yang beriman sependapat dengan kami bahwa peristiwa yang terjasdi tahun 1965 tersebut telah mendatangkan berkah bagi kami. Sebab sebelumnya, komunis sangat merajalela di negeri kami. Melecehkan agama dan adat kami orang Minang. Mereka kaum anti tuhan, keras kepala, dan berkelakuan kasar layaknya orang yang belum menyentuh peradaban.

Teori resmi dari pemerintah yang hingga kini masih belum jua dirubah walau keadaan politik telah berubah menyebutkan bahwa pada malam 30 September 1965, sekelompok tentara misterius yang digerakkan oleh PKI menculik 7 orang jenderal yang kemudian membantai mereka di Lubang Buaya. Usaha itu mereka lakukan karena ketujuh jendral tersebut merupakan jendral-jendral anti Komunis.

Minggu, 03 Juni 2012

Manusia Welas Asih


 Si Besar Kepala

Setelah dengan HAM (Hak Asasi Manusia), sekarang Islam dihadapkan dengan militerisme. Bagaimana kisahnya engku?


Berawal pada petang hari Ahad tanggal 20 Mei 2012 kami membuka akun facebook. Kebiasaan kami ialah bukan meratap-ratap menulis status melainkan sekedar memeriksa apakah ada pesan masuk, kemudian pemberitahuan, selanjutnya pernyataan permintaan perkawanan (yang ini termasuk jarang kami dapati) dan terakhir memeriksa kabar kawan-kawan melalui status mereka di facebook.

Ketika sedang khusyuk-khusyuknya memeriksa status kawan-kawan, kami tertarik terhadap salah satu postingan yang kawan kami ikut ditag. Sebenarnya kami telah dapat memperkirakan apa gerangan isi postingan tersebut. Namun untuk menuntaskan rasa ingin tahu kami baca juga akhirnya. Isinya ialah FPI vs Lady Gaga. Dapatkah engku menerka, pambahasan seperti apakah yang kami baca pada postingan ini?
Hm.. bagaimana baiknya kami menyampaikannya..

Status yang lebih menyerupai postingan ini dibuat oleh seorang yang berpendidikan. Dia merupakan seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi agama di Kota Padang. Cerdas orangnya sebab dia juga memiliki sebuah blog yang selalu diupdatenya tiap hari. Lagipula kalau tak cerdas, mana dapat dia menjadi seorang dosen, bukankah begitu engku?

Dia mencoba menganalisis mengenai sikap militerisme yang ada pada masyarakat Indonesia. Sungguh menarik tulisan yang dimuat karena mengutip tulisan dari salah seorang intelektual terkemuka dari Pulau Jawa, pusatnya Indonesia. Tulisan tersebut berisi sebuah kisah jenaka semasa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Trik yang bagus untuk menarik minat dan simpati pembaca, cara penulisan yang profesional sehingga, tak kentara siapa yang dituju karena begitu halusnya permainan kata-kata.

Selasa, 29 Mei 2012

Bahasa Indonesia


Bahasa Persatuan
Cobalah engku renungkan, betapa hebatnya dampak dari perkembangan Bahasa Melayu di Indonesia. Bahasa yang kemudian secara resmi bernama “Bahasa Indonesia” telah mempersatukan anak-anak negeri dari sudut paling timur hingga sudut paling barat dari negara ini, Indonesia. Bahasa Melayu atau sekarang kita sebut sebagai Bahasa Indonesia telah menjembatani beragam perbedaan terutama sekali dalam bercakap-cakap antar pemeluk kebudayaan yang jamak di Indonesia. Tanpa adanya bahasa ini, niscaya Indonesia akan terpecah-pecah dan kacau-balau.
Hal yang sama tampaknya berlainan di negara jiran kita yang juga menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di Negara mereka. Hal ini karena minat dari generasi muda mereka sangat rendah kepada Bahasa Melayu. Mereka lebih suka berbahasa Inggris ataupun bahasa lain yang menurut mereka lebih dibutuhkan dalam pergaulan.
Bahasa Indonesia pernah menjadi sangat digemari dengan banyaknya negara yang membuka pelajaran Bahasa Indonesia. Yang paling mengejutkan ialah pada bulan Desember tahun 2007, Vietnam menyatakan secara resmi bahwa Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi di negara mereka.
Namun saat ini bahasa ini sedang turun pamor, banyak penyebabnya. Diantaranya ialah:
  1. Negara-negara seperti Cina dan Korea pada saat sekarang ini sedang naik daun, sehingga mengurangi minat dari beberapa negara untuk mempelajari Bahasa Indonesia.
  2. Anggapan bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang “mudah” telah menurunkan “nilai jual” dari bahasa ini. Hal ini berakibat pada mahasiswa yang memasuki Jurusan Bahasa Indonesia di luar negeri ialah mahasiswa yang tidak diterima di Jurusan Bahasa Inggris, Prancis, ataupun bahasa lain.
  3. Perbedaan antara Bahasa Indonesia yang dipelajari dengan bahasa yang dipraktekkan oleh kebanyakan orang Indonesia. Hal ini berlaku di kota-kota besar Indonesia dimana Bahasa Gaul telah menyebar dan membudaya di kalangan anak muda.
  4. Minat dari orang Indonesia untuk mempelajari Bahasa Indonesia sangat kurang, terlihat dari nilai dari pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih rendah dari Bahasa Inggris.

Senin, 28 Mei 2012

BIjaklah dalam menerima suatu faham


 Si Besar Kepala

Setelah dengan HAM (Hak Asasi Manusia), sekarang Islam dihadapkan dengan militerisme. Bagaimana kisahnya engku?

Berawal pada petang hari Ahad tanggal 20 Mei 2012 kami membuka akun facebook. Kebiasaan kami ialah bukan meratap-ratap menulis status melainkan sekedar memeriksa apakah ada pesan masuk, kemudian pemberitahuan, selanjutnya pernyataan permintaan perkawanan (yang ini termasuk jarang kami dapati) dan terakhir memeriksa kabar kawan-kawan melalui status mereka di facebook.
Ketika sedang khusyuk-khusyuknya memeriksa status kawan-kawan, kami tertarik terhadap salah satu postingan yang kawan kami ikut ditag. Sebenarnya kami telah dapat memperkirakan apa gerangan isi postingan tersebut. Namun untuk menuntaskan rasa ingin tahu kami baca juga akhirnya. Isinya ialah FPI vs Lady Gaga. Dapatkah engku menerka, pambahasan seperti apakah yang kami baca pada postingan ini?
Hm.. bagaimana baiknya kami menyampaikannya..
Status yang lebih menyerupai postingan ini dibuat oleh seorang yang berpendidikan. Dia merupakan seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi agama di Kota Padang. Cerdas orangnya sebab dia juga memiliki sebuah blog yang selalu diupdatenya tiap hari. Lagipula kalau tak cerdas, mana dapat dia menjadi seorang dosen, bukankah begitu engku?

Dia mencoba menganalisis mengenai sikap militerisme yang ada pada masyarakat Indonesia. Sungguh menarik tulisan yang dimuat karena mengutip tulisan dari salah seorang intelektual terkemuka dari Pulau Jawa, pusatnya Indonesia. Tulisan tersebut berisi sebuah kisah jenaka semasa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Trik yang bagus untuk menarik minat dan simpati pembaca, cara penulisan yang profesional sehingga, tak kentara siapa yang dituju karena begitu halusnya permainan kata-kata.
Bagi ahli propaganda dan penyuka teori konspirasi, tulisan ini tidak bagitu asing, justeru mengasyikkan. Namun bagi orang awam, kemungkinan akan terpengaruh sangat besar. Kebesaran nama si penulis sudah cukup mensugesti pembaca.

Senin, 26 Maret 2012


Pabila Harta & Tahta Bicara

Entah kami yang tak punya pekerjaan atau memang semua orang yang larut dalam pemberitaan oleh media. Ketika pertama  kali menyaksikan khabar perihal pemilihan kepala daerah di Jakarta kami merasakan ada yang janggal. Perasaan yang menganjal itu ialah perasaan yang timbul akibat keanehan yang dirasa pada Pilkada kali ini di Jakarta. Dari beberapa pasang calon kepala daerah beberapa diantaranya  masih menjabat sebagai kepala daerah di daerah lain, apakah itu gubernur ataupun walikota.
Apa gerangan yang tengah berlaku duhai tuan? Ada apa ini? Semua media yang mengabarkan berita ini terkesan mewajarkan keadaan yang tengah terjadi. Tidak ada yang memandang aneh, wajarkah menurut tuan perkara yang tengah berlaku ini?
Kenapa perkara ini dapat terjadi duhai tuan? Lama aku tercenung berfikir akan jawaban dari pertanyaan ku tersebut. Akupun mulai mengurutkan satu-persatu, walaupun hanya sekedar kira-kira sesuai pengetahuan ku yang terbatas akan dunia politik yang katanya kotor.
Pertama karena Jakarta Kota Terbesar di Indonesia, perputaran uang (potensi ekonominya) merupakan yang terbesar di negara ini. Permasalahan yang dihadapinyapun sangatlah rumit (kompleks), serta kekuasaan yang mengiringinyapun sangatlah besar. Maka sering muncul semacam pameo dikalangan khalayak bahwa Gubernur Jakarta sama kiranya dengan “RI 3”.
Kedua ialah keadaan masyarakat Kota Jakarta yang beragam, dari latar belakang budaya dan agama sehingga memungkinkan orang-orang dari kalangan mana saja untuk menjadi pemimpin di kota ini. Syarat wajib yang harus dimiliki tentunya dukungan Partai Politik. Itulah tampaknya akibat dari negara demokrasi yang dikuasai oleh Partai Politik.
Ketiga ialah Jakarta dengan segala permasalahannya merupakan pusat dari beragam aktivitas seperti aktivitas politik dimana di kota inilah kepala negara, para menteri, lembaga dan badan tinggi negara berkantor. Di kota ini pulalah bertempat kantor pusat dari partai politik dan organisasi massa lainnya. Kota ini juga bertempat kantor-kantor dari perusahaan besar yang melakukan bisnis (atau eksploitasinya) di Indonesia. Kota ini juga menjadi pusat kriminal dan beragam tindak kejahatan lainnya. Pendek kata, Jakarta merupakan kota gado-gado dimana segala rasa berpadu, hidup berdampingan, terlepas apakah mereka suka atau tidak. Kota ini memiliki hukum sendiri, hukum yang tidak dipahami oleh masyarakat lainnya.
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

Suka Cita pada Permulaan


Harapan yang Besar
Tanggung Jawab yang Berat

Hari ini Senin tanggal 15 Oktober 2012 telah dilantik gubernur baru hasil dari pemilihan yang dilakukan oleh rakyat Jakarta pada beberapa waktu yang lalu. Suatu pemilihan yang sngat emosional, diiringi dengan pertarungan sengit dan penuh intrik antara masing-masing pasangan calon. Namun rakyat Jakarta telah menentukan pilihannya, Joko Widodo dan Basuki cahya Purnama (A Hok) muncul sebagai pemenang. Orang yang sama sekali asing dan baru bagi Jakarta. Sang Gubernur merupakan mantan Walikota Solo dan wakilnya merupakan mantan Bupati Bangka.


Tampaknya seluruh orang berbahagia dan bersuka ria pada pengangkatan gubernur baru ini. beberapa stasiun televisi menyiarkan secara langsung pelantikan gubernur Jakarta. Penuh harap dan kebahagian, itulah yang tertangkap pada pelantikan gubernur baru hasil pemilihan rakyat. Orang bijak pernah berujar, kualitas seorang pemimpin merupakan cerminan bagi rakyat yang dipimpinnya. Itulah cerminan orang Jakarta.

Hampir seluruh pendapat yang disiarkan oleh media pada masa pemilihan yang lampau mencerminkan pendapat yang baik mengenai Jokowi, dia adalah seorang pemimpin yang berhasil. Dan itu pulalah harapan orang Jakarta, hendaknya dia juga berhasil di daerah baru yang dipimpinnya. Walauada ada beberapa kekhawatiran yang disuarakan, namun itu luput atau tenggelam dalam berita yang lebih condong ke arah sisi baik yang disiarkan oleh media.

Senin, 01 Oktober 2012

PKI, 1965, & Komunis


 Mencoba Merenungi Negeri


Hari Kesaktian Pancasila, apa gerangan yang terfikirkan oleh tuan? Komunis dan para jendral yang dibantai dan lebih dikenal sebagai Jendral Revolusi di republik ini? atau Komunis yang katanya hendak merebut kekuasaan? Atau kami lebih berpendapat “ingin menyelamatkan dominasi mereka atas pemerintahan Soekarno saat itu”. Bisa juga tuan berpendapat: suatu dongeng pelelap sebelum tidur yang dibacakan oleh Soeharto, kudeta terselubung, campur tangan Amerika, dan lain sebagainya.


Bagi kami orang Minangkabau dan kamipun yakin seluruh umat Islam yang beriman sependapat dengan kami bahwa peristiwa yang terjasdi tahun 1965 tersebut telah mendatangkan berkah bagi kami. Sebab sebelumnya, komunis sangat merajalela di negeri kami. Melecehkan agama dan adat kami orang Minang. Mereka kaum anti tuhan, keras kepala, dan berkelakuan kasar layaknya orang yang belum menyentuh peradaban.

Teori resmi dari pemerintah yang hingga kini masih belum jua dirubah walau keadaan politik telah berubah menyebutkan bahwa pada malam 30 September 1965, sekelompok tentara misterius yang digerakkan oleh PKI menculik 7 orang jenderal yang kemudian membantai mereka di Lubang Buaya. Usaha itu mereka lakukan karena ketujuh jendral tersebut merupakan jendral-jendral anti Komunis.

Minggu, 03 Juni 2012

Manusia Welas Asih


 Si Besar Kepala

Setelah dengan HAM (Hak Asasi Manusia), sekarang Islam dihadapkan dengan militerisme. Bagaimana kisahnya engku?


Berawal pada petang hari Ahad tanggal 20 Mei 2012 kami membuka akun facebook. Kebiasaan kami ialah bukan meratap-ratap menulis status melainkan sekedar memeriksa apakah ada pesan masuk, kemudian pemberitahuan, selanjutnya pernyataan permintaan perkawanan (yang ini termasuk jarang kami dapati) dan terakhir memeriksa kabar kawan-kawan melalui status mereka di facebook.

Ketika sedang khusyuk-khusyuknya memeriksa status kawan-kawan, kami tertarik terhadap salah satu postingan yang kawan kami ikut ditag. Sebenarnya kami telah dapat memperkirakan apa gerangan isi postingan tersebut. Namun untuk menuntaskan rasa ingin tahu kami baca juga akhirnya. Isinya ialah FPI vs Lady Gaga. Dapatkah engku menerka, pambahasan seperti apakah yang kami baca pada postingan ini?
Hm.. bagaimana baiknya kami menyampaikannya..

Status yang lebih menyerupai postingan ini dibuat oleh seorang yang berpendidikan. Dia merupakan seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi agama di Kota Padang. Cerdas orangnya sebab dia juga memiliki sebuah blog yang selalu diupdatenya tiap hari. Lagipula kalau tak cerdas, mana dapat dia menjadi seorang dosen, bukankah begitu engku?

Dia mencoba menganalisis mengenai sikap militerisme yang ada pada masyarakat Indonesia. Sungguh menarik tulisan yang dimuat karena mengutip tulisan dari salah seorang intelektual terkemuka dari Pulau Jawa, pusatnya Indonesia. Tulisan tersebut berisi sebuah kisah jenaka semasa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Trik yang bagus untuk menarik minat dan simpati pembaca, cara penulisan yang profesional sehingga, tak kentara siapa yang dituju karena begitu halusnya permainan kata-kata.

Selasa, 29 Mei 2012

Bahasa Indonesia


Bahasa Persatuan
Cobalah engku renungkan, betapa hebatnya dampak dari perkembangan Bahasa Melayu di Indonesia. Bahasa yang kemudian secara resmi bernama “Bahasa Indonesia” telah mempersatukan anak-anak negeri dari sudut paling timur hingga sudut paling barat dari negara ini, Indonesia. Bahasa Melayu atau sekarang kita sebut sebagai Bahasa Indonesia telah menjembatani beragam perbedaan terutama sekali dalam bercakap-cakap antar pemeluk kebudayaan yang jamak di Indonesia. Tanpa adanya bahasa ini, niscaya Indonesia akan terpecah-pecah dan kacau-balau.
Hal yang sama tampaknya berlainan di negara jiran kita yang juga menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di Negara mereka. Hal ini karena minat dari generasi muda mereka sangat rendah kepada Bahasa Melayu. Mereka lebih suka berbahasa Inggris ataupun bahasa lain yang menurut mereka lebih dibutuhkan dalam pergaulan.
Bahasa Indonesia pernah menjadi sangat digemari dengan banyaknya negara yang membuka pelajaran Bahasa Indonesia. Yang paling mengejutkan ialah pada bulan Desember tahun 2007, Vietnam menyatakan secara resmi bahwa Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi di negara mereka.
Namun saat ini bahasa ini sedang turun pamor, banyak penyebabnya. Diantaranya ialah:
  1. Negara-negara seperti Cina dan Korea pada saat sekarang ini sedang naik daun, sehingga mengurangi minat dari beberapa negara untuk mempelajari Bahasa Indonesia.
  2. Anggapan bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang “mudah” telah menurunkan “nilai jual” dari bahasa ini. Hal ini berakibat pada mahasiswa yang memasuki Jurusan Bahasa Indonesia di luar negeri ialah mahasiswa yang tidak diterima di Jurusan Bahasa Inggris, Prancis, ataupun bahasa lain.
  3. Perbedaan antara Bahasa Indonesia yang dipelajari dengan bahasa yang dipraktekkan oleh kebanyakan orang Indonesia. Hal ini berlaku di kota-kota besar Indonesia dimana Bahasa Gaul telah menyebar dan membudaya di kalangan anak muda.
  4. Minat dari orang Indonesia untuk mempelajari Bahasa Indonesia sangat kurang, terlihat dari nilai dari pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih rendah dari Bahasa Inggris.

Senin, 28 Mei 2012

BIjaklah dalam menerima suatu faham


 Si Besar Kepala

Setelah dengan HAM (Hak Asasi Manusia), sekarang Islam dihadapkan dengan militerisme. Bagaimana kisahnya engku?

Berawal pada petang hari Ahad tanggal 20 Mei 2012 kami membuka akun facebook. Kebiasaan kami ialah bukan meratap-ratap menulis status melainkan sekedar memeriksa apakah ada pesan masuk, kemudian pemberitahuan, selanjutnya pernyataan permintaan perkawanan (yang ini termasuk jarang kami dapati) dan terakhir memeriksa kabar kawan-kawan melalui status mereka di facebook.
Ketika sedang khusyuk-khusyuknya memeriksa status kawan-kawan, kami tertarik terhadap salah satu postingan yang kawan kami ikut ditag. Sebenarnya kami telah dapat memperkirakan apa gerangan isi postingan tersebut. Namun untuk menuntaskan rasa ingin tahu kami baca juga akhirnya. Isinya ialah FPI vs Lady Gaga. Dapatkah engku menerka, pambahasan seperti apakah yang kami baca pada postingan ini?
Hm.. bagaimana baiknya kami menyampaikannya..
Status yang lebih menyerupai postingan ini dibuat oleh seorang yang berpendidikan. Dia merupakan seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi agama di Kota Padang. Cerdas orangnya sebab dia juga memiliki sebuah blog yang selalu diupdatenya tiap hari. Lagipula kalau tak cerdas, mana dapat dia menjadi seorang dosen, bukankah begitu engku?

Dia mencoba menganalisis mengenai sikap militerisme yang ada pada masyarakat Indonesia. Sungguh menarik tulisan yang dimuat karena mengutip tulisan dari salah seorang intelektual terkemuka dari Pulau Jawa, pusatnya Indonesia. Tulisan tersebut berisi sebuah kisah jenaka semasa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Trik yang bagus untuk menarik minat dan simpati pembaca, cara penulisan yang profesional sehingga, tak kentara siapa yang dituju karena begitu halusnya permainan kata-kata.
Bagi ahli propaganda dan penyuka teori konspirasi, tulisan ini tidak bagitu asing, justeru mengasyikkan. Namun bagi orang awam, kemungkinan akan terpengaruh sangat besar. Kebesaran nama si penulis sudah cukup mensugesti pembaca.

Senin, 26 Maret 2012


Pabila Harta & Tahta Bicara

Entah kami yang tak punya pekerjaan atau memang semua orang yang larut dalam pemberitaan oleh media. Ketika pertama  kali menyaksikan khabar perihal pemilihan kepala daerah di Jakarta kami merasakan ada yang janggal. Perasaan yang menganjal itu ialah perasaan yang timbul akibat keanehan yang dirasa pada Pilkada kali ini di Jakarta. Dari beberapa pasang calon kepala daerah beberapa diantaranya  masih menjabat sebagai kepala daerah di daerah lain, apakah itu gubernur ataupun walikota.
Apa gerangan yang tengah berlaku duhai tuan? Ada apa ini? Semua media yang mengabarkan berita ini terkesan mewajarkan keadaan yang tengah terjadi. Tidak ada yang memandang aneh, wajarkah menurut tuan perkara yang tengah berlaku ini?
Kenapa perkara ini dapat terjadi duhai tuan? Lama aku tercenung berfikir akan jawaban dari pertanyaan ku tersebut. Akupun mulai mengurutkan satu-persatu, walaupun hanya sekedar kira-kira sesuai pengetahuan ku yang terbatas akan dunia politik yang katanya kotor.
Pertama karena Jakarta Kota Terbesar di Indonesia, perputaran uang (potensi ekonominya) merupakan yang terbesar di negara ini. Permasalahan yang dihadapinyapun sangatlah rumit (kompleks), serta kekuasaan yang mengiringinyapun sangatlah besar. Maka sering muncul semacam pameo dikalangan khalayak bahwa Gubernur Jakarta sama kiranya dengan “RI 3”.
Kedua ialah keadaan masyarakat Kota Jakarta yang beragam, dari latar belakang budaya dan agama sehingga memungkinkan orang-orang dari kalangan mana saja untuk menjadi pemimpin di kota ini. Syarat wajib yang harus dimiliki tentunya dukungan Partai Politik. Itulah tampaknya akibat dari negara demokrasi yang dikuasai oleh Partai Politik.
Ketiga ialah Jakarta dengan segala permasalahannya merupakan pusat dari beragam aktivitas seperti aktivitas politik dimana di kota inilah kepala negara, para menteri, lembaga dan badan tinggi negara berkantor. Di kota ini pulalah bertempat kantor pusat dari partai politik dan organisasi massa lainnya. Kota ini juga bertempat kantor-kantor dari perusahaan besar yang melakukan bisnis (atau eksploitasinya) di Indonesia. Kota ini juga menjadi pusat kriminal dan beragam tindak kejahatan lainnya. Pendek kata, Jakarta merupakan kota gado-gado dimana segala rasa berpadu, hidup berdampingan, terlepas apakah mereka suka atau tidak. Kota ini memiliki hukum sendiri, hukum yang tidak dipahami oleh masyarakat lainnya.